"Awas Bahaya Zoonosis" Demi Keselamatan...Pilih Daging dari Rumah Potong Hewan (RPH)

Banyuwangi, 12/04/206. Upaya menjamin produk pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) demi kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat khususnya Banyuwangi menjadi tanggungjawab yang tidak mudah oleh Dinas Peternakan Banyuwangi.  Bahayanya  zoonosis yaitu penularan penyakit dari hewan kemanusia atau sebaliknya terus mengancam kesehatan manusia.  Akan tetapi masyarakat pada umumnya kurang memperhatikan bahaya ini dan masih mengesampingkan.

Daging merupakan produk pangan asal hewan menjadi pensuplai protein yang tinggi bagi manusia. Daging yang layak konsumsi adalah daging yang Aman (tidak terkontaminasi bahan berbahaya), sehat (tidak terjangkit penyakit), utuh (tidak tercampur bahan tambahan berbahaya) dan halal (sesuai syarii Islam). RPH adalah tempat pemotongan hewan yang menjamin kebedaraan daging dimaksud sedangkan daging yang berasal dari luar RPH sangat disangsikan penjaminan ASUHnya. Daging yang bersal dari RPH telah melalui pemeriksaan antemortem (pemeriksaan sebelum dipotong) dan postmortem (pemeriksaan setelah dipotong) serta disembelih oleh Juru Sembelih Halal (Juleha).  RPH milik pemda di Banyuwangi semuanya telah dilengkapi dengan tenaga profesional dokterhewan dan keurmaster untuk menunjang tujuan keberadaan RPH. 

Kesadaran masyarakat akan arti pentingnya produk pangan asal hewan yang ASUH memang masih rendah, akan tetapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan dipercaya nantinya akan menjadi kewajiban dan menjadi syarat mutlak untuk dikonsumsi.  Sementara ini masih pada pemenuhan untuk perusahaan atau retail nasional yang mengharuskan persyaratan yang ketat. Respon masyarakat terhadap komoditi daging yang tidak ada bedanya antara yang disembelih di RPH maupun diluar RPH, menyebabkan para jagal enggan untuk menyembelih ternaknya di RPH. Keengganan para jagal inilah yang menjadi sasaran Disnak Banyuwangi untuk terus memberi kesadaran arti pentingnya kualitas daging kepada para jagal, disamping adanya Undang-undang yang memberi larangan yang keras untuk tidak memotong betina produktif dan mengharuskan pemotongan dilakukan di RPH. Disemua RPH juga telah dipasang banner-banner untuk terus menyadarkan para jagal dalam penanganan pemotongan hewan. Gerakan ini tentu dibutuhkan dukungan masyarakat sebagai konsumen untuk pintar-pintar memilih dan memilah daging yang layak konsumsi dan meningkatkan kesadaran akan pilihan produk daging dari RPH  lebih baik dibanding diluar RPH(bns).